Saham Jawara

Portal analisis saham dan investasi terpercaya
Analisis Saham

TLKM Luncurkan Empat Pilar Transformasi Baru: Fokus Monetisasi Aset dan Efisiensi Modal

Admin 02 August 2025 214 views
TLKM Luncurkan Empat Pilar Transformasi Baru: Fokus Monetisasi Aset dan Efisiensi Modal
Manajemen baru Telekomunikasi Indonesia (TLKM) mengungkap agenda transformasi ambisius untuk 3-5 tahun ke depan, menargetkan penghematan capex dan opex Rp6 triliun per tahun serta margin EBITDA di atas 50%.

TLKM Luncurkan Empat Pilar Transformasi Baru: Fokus Monetisasi Aset dan Efisiensi Modal

Manajemen baru Telekomunikasi Indonesia (TLKM) mengungkap agenda transformasi ambisius untuk 3-5 tahun ke depan, menargetkan penghematan capex dan opex Rp6 triliun per tahun serta margin EBITDA di atas 50%.

Manajemen Baru Tampil dengan Visi Transformasi

Pada 24 Juli 2025, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) menggelar investor day hybrid yang dipimpin langsung oleh jajaran manajemen baru. Acara ini merupakan pertemuan grup pertama sejak penunjukan manajemen baru pada 27 Mei 2025, yang diwakili oleh Dian Siswarini (Direktur Utama), Arthur Angelo Syailendra (Direktur Keuangan & Manajemen Risiko), dan Seno Seomadji (Direktur Pengembangan Bisnis Strategis & Portofolio).

Tim manajemen baru ini mengumumkan empat pilar transformasi strategis dengan tujuan menciptakan ekosistem digital yang besar. Menurut analisis CGS International, ini merupakan kelanjutan dari strategi manajemen sebelumnya namun dengan target eksekusi yang lebih cepat dan agresif.

Empat Pilar Transformasi Strategis

1. Optimalisasi Keputusan Alokasi Modal

TLKM berkomitmen untuk mendasarkan semua keputusan alokasi modal pada Internal Rate of Return (IRR) yang tinggi. Perusahaan menargetkan penghematan gabungan capex dan opex sebesar Rp6 triliun per tahun selama 3-5 tahun ke depan, dengan target margin EBITDA di atas 50%.

Manajemen menilai neraca saat ini terlalu konservatif (Debt to Equity Ratio Q1 2025: 0,41x) dan akan menggunakan leverage secara hati-hati untuk investasi besar yang strategis.

2. Rasionalisasi Struktur Anak Perusahaan

TLKM berencana mengurangi jumlah anak perusahaan secara drastis dari 55 menjadi sekitar 22 perusahaan pada periode 2027-2028. Langkah ini dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan fokus bisnis.

3. Monetisasi Aset Infrastruktur Bernilai Tinggi

Perusahaan secara aktif mencari mitra yang tepat untuk memonetisasi aset infrastruktur seperti pusat data, menara, dan fiber optik. TLKM memperkirakan aset tetap senilai Rp100-150 triliun dapat dibuka nilai ekonomisnya.

Manajemen meyakini investor masih meremehkan bisnis infrastruktur B2B, terutama fiber optik, dan berencana lebih transparan dalam melaporkan keuangan bisnis infrastruktur B2B ke depan.

4. Pergeseran Fokus ke B2B dan B2G ICT

Dalam jangka pendek, TLKM akan fokus memperbaiki bisnis infrastruktur B2C, namun dalam jangka panjang akan mengalihkan fokus ke bisnis Information and Communication Technology (ICT) B2B dan B2G (Business to Government).

Strategi Telkomsel: Simplifikasi dan Optimalisasi Harga

Dampak Kenaikan Harga Industri

Direksi Telkomsel mencatat kenaikan harga yang sedang berlangsung di industri seluler dan konvergensi mobile-fixed (FMC). Telkomsel melihat dampak minimal terhadap pendapatan seluler pasca simplifikasi starter pack selama Maret-Juni 2025, karena masih dalam proses pembersihan inventori lama.

Namun, Telkomsel mengharapkan pertumbuhan pendapatan yang lebih baik di semester kedua 2025 dibandingkan semester pertama, didorong oleh simplifikasi starter pack dan kenaikan harga.

Simplifikasi Produk Masif

Telkomsel menargetkan pengurangan total SKU (Stock Keeping Unit) dari 6.000 menjadi hanya 200 untuk menyederhanakan portofolio produk. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional dan fokus pemasaran.

Penguatan Strategi FMC

Untuk menciptakan sumber pertumbuhan baru di bisnis B2C, Telkomsel bertujuan memperkuat produk FMC seperti penawaran bundling produk untuk paket keluarga. Perusahaan juga menawarkan layanan nilai tambah seperti perangkat smart home dan konten over-the-top (OTT) untuk mendorong loyalitas pelanggan.

Sejak integrasi IndiHome ke dalam Telkomsel pada Q3 2023, penetrasi rumah tangga multi-produk meningkat dari 38% menjadi lebih dari 55% pada Q1 2025.

Proyeksi Keuangan dan Valuasi

CGS International mempertahankan target harga berbasis DCF sebesar Rp3.250 (WACC: 9,6%, Terminal Growth: 1,5%) dengan rating ADD. Proyeksi keuangan menunjukkan:

  • Laba bersih 2025F: Rp25,066 miliar (pertumbuhan 3,51% YoY)
  • Laba bersih 2026F: Rp26,317 miliar (pertumbuhan 5,01% YoY)
  • Target margin EBITDA: 51,0% (2025F) dan 51,3% (2026F)
  • Dividend yield: 7,0% (2025F) dan 7,2% (2026F)

Proyeksi Operasional

Segmen Mobile

  • Total pelanggan mobile 2025F: 158,7 juta (turun dari 159,4 juta di 2024)
  • Blended mobile ARPU 2025F: Rp43.800 per bulan per pelanggan
  • Pertumbuhan postpaid: Target 8,3 juta pelanggan pada 2025F

Segmen IndiHome

  • Pelanggan IndiHome 2025F: 11,6 juta (naik dari 10,8 juta di 2024)
  • IndiHome ARPU 2025F: Rp225.300 per bulan per pelanggan

Risiko dan Katalis Re-rating

Risiko Downside:

  • Potensi banjir pasokan kartu SIM dari kompetitor
  • Biaya spektrum lebih tinggi dari perkiraan

Katalis Re-rating:

  • Kelanjutan kenaikan harga paket seluler
  • Implementasi sukses sistem one-bill
  • Program pengurangan biaya yang efektif

Kesimpulan

Agenda transformasi baru TLKM menunjukkan komitmen manajemen untuk menciptakan value yang lebih besar melalui efisiensi operasional, monetisasi aset, dan fokus pada bisnis dengan return tinggi. Dengan target penghematan Rp6 triliun per tahun dan rencana monetisasi aset senilai Rp100-150 triliun, TLKM berpotensi memberikan returns menarik bagi investor.

Meskipun menghadapi tantangan kompetisi dan regulasi, fundamental bisnis yang kuat ditambah strategi transformasi yang jelas membuat TLKM layak dipertimbangkan dalam portofolio investasi jangka panjang dengan target harga Rp3.250 dan potensi upside 14%.

Bagikan Artikel