Pendanaan Terkumpul Melalui Berbagai Saluran
Sebagai perusahaan infrastruktur yang membutuhkan capex besar, kemampuan mengamankan pendanaan merupakan bagian krusial dalam perjalanan WIFI. Perusahaan berhasil menghimpun modal melalui berbagai saluran:
- Pendanaan Ekuitas: Rp5,9 triliun melalui rights issue
- Private Placement NTT-East: Rp1 triliun dalam bentuk tunai
- Penerbitan Obligasi: Total Rp2,5 triliun
Total pendanaan yang terkumpul mencapai Rp9,4 triliun, memberikan ammunition yang cukup untuk fase ekspansi agresif yang direncanakan perusahaan.
Target Eksekusi Ambisius: 4 Juta Homepass dalam Setahun
Dengan pendanaan telah terkumpul, WIFI kini memasuki fase eksekusi yang menentukan keberhasilan strategi bisnisnya. Perusahaan menargetkan deployment 4 juta homepass (HP) dalam satu tahun, dengan rata-rata 1 juta per kuartal.
Rencana Ekspansi Strategis:
- Lelang Frekuensi 1,4 GHz: WIFI optimis mengamankan frekuensi ini untuk mendukung ekspansi jaringan 5G Fixed Wireless Access (FWA)
- Rollout Stasiun Kereta: Target deployment masif di 390 area stasiun kereta api di seluruh Jawa
- Kemitraan Strategis: Memperkuat kapabilitas eksekusi melalui kolaborasi dengan mitra strategis, vendor, dan kontraktor berpengalaman
Model Bisnis dan Proyeksi Take-Up Rate
WIFI menetapkan target take-up rate sebesar 80%, namun BCA Sekuritas memperkirakan perusahaan membutuhkan waktu untuk mencapai level tersebut, terutama untuk homepass yang baru dibangun. Diperlukan kampanye marketing dan aktivasi one-on-one ke rumah-rumah untuk mencapai target ini.
Proyeksi Take-Up Rate:
- 2026F: 56%
- 2031F: 75% (peningkatan bertahap)
Model bisnis WIFI mengandalkan peningkatan bertahap dalam adopsi layanan, didukung oleh strategi pemasaran yang intensif dan pendekatan personal kepada calon pelanggan.
Tekanan Pada Margin: Normalisasi EBITDA
Seiring dengan scaling deployment homepass, biaya depresiasi akan mulai mengejar, membuat level margin EBITDA saat ini (rata-rata 78% dalam empat kuartal terakhir) menjadi tidak sustainable.
Proyeksi Margin:
- EBITDA Margin Ternormalisasi: Sekitar 60%
- Proyeksi Kebutuhan Pendanaan: Rp1-2 triliun per tahun hingga 2029
- Positive Free Cash Flow: Diproyeksikan tercapai pada 2029F
BCA Sekuritas memproyeksikan bahwa fundraising masa depan akan mengandalkan pembiayaan utang, yang akan meningkatkan beban bunga. Selain itu, kepemilikan mitra strategis di IJE akan meningkatkan alokasi minority interest, menghasilkan porsi laba bersih yang lebih rendah untuk induk perusahaan.
12 Bulan Krusial: Make It or Break It
Analis BCA Sekuritas meyakini bahwa 12 bulan ke depan akan menjadi periode pivotal bagi perusahaan untuk membuktikan feasibilitas dalam menyediakan infrastruktur digital masif, berkualitas tinggi, dan terjangkau melalui model kemitraan ISP lokal.
Key Profitability Drivers yang Harus Diperhatikan:
- Take-up Rate: Tingkat adopsi layanan oleh konsumen
- Disiplin Capex dan Opex: Efisiensi dalam pengeluaran modal dan operasional
- Kecepatan dan Kuantitas Rollout Homepass: Kemampuan eksekusi infrastruktur
- Demand di Target Market: Permintaan di pasar yang ditargetkan
- Customer Loyalty: Tingkat loyalitas pelanggan
Valuasi dan Target Harga
BCA Sekuritas menaikkan target harga WIFI menjadi Rp4.000 (dari Rp2.500 sebelumnya), memberikan potensi upside 49,8% dari harga saat ini Rp2.670. Target harga ini mengincorporasi corporate action penghimpunan modal terbaru.
Metodologi Valuasi:
- DCF Valuation: WACC 14,7% dan terminal growth 3%
- Company-Specific Premium: 3% diterapkan pada cost of equity untuk mencerminkan risiko eksekusi
- Implied EV/EBITDA 2026F: 10,2x, dinilai wajar dibandingkan dengan peers infrastruktur digital (tower) yang diperdagangkan pada 7-13x
Proyeksi Kinerja Keuangan
Sebagaimana tipikal perusahaan infrastruktur yang memasuki siklus capex-heavy, WIFI diproyeksikan mengalami free cash flow negatif dan ROE serta ROA single-digit rendah di tahun-tahun awal.
Proyeksi Key Metrics:
- Positive FCF: 2029F
- ROE: Mencapai 20% pada 2030F
- ROA: Mencapai 11% pada 2030F
Analisis Risiko
Upside Risks:
- Suku bunga yang lebih rendah
- Take-up rate yang lebih tinggi dari ekspektasi
- Kemungkinan passing PPN kepada pelanggan
- Harga jual yang lebih tinggi
Downside Risks:
- Permintaan rendah yang mengakibatkan take-up rate rendah
- Penurunan lebih lanjut daya beli pelanggan (target market)
- Suku bunga yang lebih tinggi
- Eksekusi yang lambat
Kinerja Saham yang Mengesankan
WIFI telah menunjukkan kinerja saham yang luar biasa dengan return:
- Year-to-Date: +551,2%
- 12 Bulan: +1.147,7%
- Range Harga 12 Bulan: Rp204 - Rp3.200
Performa ini jauh mengungguli IHSG yang hanya naik 7,6% YTD, menunjukkan antusiasme investor terhadap cerita pertumbuhan WIFI.
Fundamental Finansial
Proyeksi Pendapatan dan Profitabilitas:
- Revenue 2025F: Rp1,53 triliun (+128% YoY)
- Revenue 2026F: Rp3,95 triliun (+158% YoY)
- Net Profit 2025F: Rp341 miliar (+47% YoY)
- Net Profit 2026F: Rp527 miliar (+55% YoY)
Kesimpulan: Optimis namun Realistis
BCA Sekuritas tetap optimis namun realistis terhadap prospek WIFI. Dengan pendanaan telah terkumpul dan rencana eksekusi yang ambisius, perusahaan berada di posisi yang baik untuk merealisasikan visi membangun infrastruktur digital masif di Indonesia.
Kunci keberhasilan terletak pada kemampuan eksekusi dalam 12 bulan ke depan. Jika WIFI dapat membuktikan model bisnisnya berjalan efektif dengan take-up rate yang memuaskan dan disiplin dalam pengeluaran, potensi return yang signifikan menanti investor.
Rekomendasi: BUY dengan Target Harga Rp4.000
Model kemitraan ISP lokal yang unik, dukungan pendanaan yang kuat, dan target market yang besar menjadikan WIFI sebagai "A Gem in the Making" di sektor teknologi Indonesia.
Analisis ini didasarkan pada laporan BCA Sekuritas tertanggal 29 Juli 2025. Investasi pada saham mengandung risiko dan past performance tidak menjamin hasil masa depan. Konsultasikan dengan penasihat investasi sebelum mengambil keputusan.